Carut Marut Politik Bangsa (baca : Pemilu 2019).

Tulisan saya kali ini mungkin akan sangat emosional dan tidak terstruktur, berhubung tulisan ini akan membahas tentang pengalaman saya mengikuti pemilu 2019 di kota Medan, Sumatera Utara yang saya rasakan agak mengecewakan dibanding dengan pemilu-pemilu sebelumnya.

Saya tidak bisa meng-klaim pemilu kali ini berjalan dengan baik dikarenakan pengalaman pribadi yang saya rasakan dan pengalaman orang-orang di sekeliling yang saya amati. Dari awal pengurusan form A5, saya merasa prosedur mengikuti pemilu kali ini terbilang rumit. Padahal konon kita sudah memiliki fasilitas e-KTP yang semestinya bisa mengatasi berbagai proses validasi data supaya berjalan lebih efektif dan efisien. Karena kompleksitasnya pengurusan A5 ini, teman-teman kantor saya sudah menyerah duluan sebelum mereka mengupayakannya.

Saran : untuk pemilu berikutnya, apabila akan dilakukan pindah TPS sebaiknya tidak perlu mengurus form A5 seperti saat ini. Cukup menginformasikan ke KPU melalui elektronik mail atau input data pada website KPU supaya prosesnya tidak menghabiskan banyak resource (tenaga, waktu, dana, pikiran, dsb nya) seperti apa yang terjadi saat ini.

Di luar pengurusan form A5, saya melihat proses pemilu 2019 ini berjalan tidak efektif salah satunya karena banyaknya proses yang masih dilakukan secara manual. Entah mengapa pemerintah dan rakyat kita sepertinya masih skeptis dengan kemajuan dunia IT, sehingga pemilu pun harus dilakukan secara manual di semua titik. Padahal jika berkaca pada kemampuan SDM nya, Indonesia memiliki para pakar informatika dan komputer yang cukup handal dan tak kalah cemerlang dari pebisnis IT pentolan seperti Mark Z, Steve Jobs maupun Sundar Pichai, yang sudah berhasil mengorbitkan startup-startup Indonesia dengan penghasilan di atas Trilyunan Rupiah. Tentunya bagi para pakar IT, persoalan menghitung surat suara bukanlah hal kompleks sehingga tidak perlu mendalami banyak SKS otomasi mesin untuk merumuskan algoritmanya. Sayangnya kepintaran mereka belum mendapatkan ruang dalam perpolitikan Indonesia saat ini.

Last but not least, Indonesia adalah negara luas berpenduduk banyak dengan populasi di atas 200 Juta penduduk. Apabila semua proses dilakukan manual seperti sekarang ini, biaya penyelenggaraan pemilu tentunya akan besar hingga mencapai 24 Trilyun rupiah. Tetapi dengan penggunaan teknologi, saya yakin penghematan bisa dilakukan 30-50% dari biaya eksisting dan juga kita memiliki sejarah baru sebagai bangsa yang maju dan berdikari dalam hal pemanfaatan teknologi.

Demikian dulu tulisan siang ini, kita lanjut dalam kesempatan berikutnya.

 

Advertisements

Belajar Hal Baru #Taekwondo

Minggu pagi kemarin saya antar anak kedua pergi berlatih taekwondo di halaman masjid dekat rumah. Wafid, panggilan singkat anak kedua, sangat antusias mengikuti latihan perdana ini karena dia punya cita-cita jadi seorang Ninja (sepertinya ini efek suka nonton film spiderman dan superhero jepang lainnya di youtube ketika lessure time di akhir pekan). Alhasil, mendaftarlah kami di perguruan taekwondo dekat rumah yang mana senpai-nya merupakan pengurus perguruan taekwondo level propinsi. (Karena senpainya profesional, saya punya bayangan perguruannya ini juga pasti dikelola dengan profesional).

Ketika berlatih, Wafid tampak sangat antusias belajar walaupun dia belum bisa mengikuti semua gerakan dengan sempurna, bahkan ada beberapa gerakan yang sama-sekali dia gak bisa lakukan seperti push-up dan sit-up. Beruntung, pada hari itu ada banyak siswa sabuk hitam yang bergabung dan bisa membimbing dia dengan penuh kesabaran sehingga keliatannya Wafid tidak patah semangat meskipun belum 100% bisa mengikuti gerakan-gerakan pemanasan dan gerakan inti latihan.

Sambil menunggu Wafid latihan, saya berbincang dengan beberapa ibu yang juga mengantarkan anak-anaknya berlatih. Saya lupa tidak berkenalan dengan mereka, tapi seperti biasa kami langsung mengobrol seperti sudah kenal lama.

Dari perbincangan singkat itu saya jadi tau bahwa ada beberapa di antara pelajar yang sedang berlatih disana merupakan atlet taekwondo yang sudah berprestasi di level nasional bahkan ikut kompetisi internasional, bahkan beberapa lulusannya sudah menjadi tentara dan termasuk putra salah seorang ibu yang berbincang pun sedang mengikuti seleksi tes masuk Sekolah Taruna Nusantara di Semarang (wow, hebat ya.. saya kira perguruan ini biasa-biasa saja karena terus terang saya sendiri berniat mengantarkan wafid belajar disini tidak dengan tujuan mengasah dia mengejar prestasi, hanya sebagai pengisi waktu luang saja agar dia belajar hal baru yang akan bermanfaat untuk masa depannya nanti).

Baiklah, demikian dulu artikel singkatnya.. kita lanjutkan di kemudian hari karena penulis harus menuntaskan dulu beberapa pekerjaan penting di kantornya. Salam

 

 

 

Nasihat Untuk Ibu Hamil

Beberapa pekan lalu saya sempat membeli beberapa buku tentang kehamilan, proses melahirkan dan kesehatan reproduksi. Sebenarnya ini memang kehamilan saya yang ketiga, tetapi karena satu dan lain hal, saya merasa perlu untuk meng-update lagi informasi dan ilmu seputar kehamilan.

Di salah satu buku yang berjudul cukup religius, penulis buku mencantumkan bahwa ketika sedang menjalani kehamilan ada baiknya ibu hamil banyak membaca doa yang tercantum pada al-baqarah ayat 128 sbb :

doa-hamil-usia-6-bulan

Walaupun penulis mencantumkan bahwa doa ini harus banyak dibaca ketika usia kehamilan 6 bulan, saya rasa maksud yang sebenarnya tidak terpaku pada durasi tersebut, ibu hamil, ibu yang sudah melahirkan maupun calon ibu ada baiknya banyak membaca doá tersebut karena makna doá tersebut sangat bagus.

Selain surat al-baqarah : 128, penulis juga mencantumkan bahwa ibu hamil harus banyak membaca surat al-imran (surat ketiga dalam Alqurán), utamanya karena surat ini menceritakan keutamaan keluarga Imran dan pentingnya menanamkan tauhid pada lingkungan keluarga. Di Surat ini juga disampaikan bahwa Allah SwT menciptakan keturunan adam sesuai kehendaknya dalam rahim manusia dan semuanya adalah dalam rangka untuk beribadah kepadaNya, sang Maha Perkasa dan Bijaksana. Dengan memahami ayat tersebut, seyogyanya sebagai manusia kita menyadari bahwasanya anak-anak keturunan kita adalah makhluk Allah yang dititipkannya kepada kita untuk menjadi pewaris para Nabi yang bertugas menegakan kalimat Allah SwT, bukan hanya sebagai penyenang hati dan pelepas lelah saja sebagaimana selama ini kita lihat bagaimana anak-anak telah hadir dalam kehidupan berumah tangga.

ali-imron-ayat-6

Demikian dulu nasihat singkat siang ini, semoga bermanfaat untuk penulis dan juga pembaca.

Migrasi Polling ke Webhook

Alhamdulillah migrasi dari polling ke webhook selesai, sebenarnya gak sampai 1 jam saja sih untuk mengganti model pengambilan data si bot ini, tetapi malesnya gak  ketulungan kalau kita lagi gak fokus. Jadi alhamdulillah akhirnya bisa fokus dan selesai urusan migrasi ini.

Tadinya jika pakai model polling, ketika kita lupa gak membuka url BOT nya, otomatis data yg dilaporkan gak akan kesimpan. Dengan Metode webhook, data akan selalu tersimpan selama web nya gak di hack orang “baik” atau orang iseng.

Nah sekian dulu update kerjaan mamak hari ini,semoga kawan2 ikut senang dengan apa yang saya kerjakan.

#KarenaProduktifItuBerkah

Best Husband Of The World

Tiba-tiba kemaren berasa punya suami terbaik di dunia ketika dapat pesan ini..

ayah_mau_pulang_suddenly

Alhamdulillah ála kulli hal.. so simply, hanya karena si Ayah pulang mendadak istrinya jadi seneng banget.. what a surprise! datang di saat yang tepat, memang dia yang ditunggu-tunggu selama ini..