sebuah kisah kakak-ku

Tulisan singkat ini adalah sebuah kisah tentang kakak saya yang ke-3. pada pemilu 2009 ini beliau maju menjadi calon anggota legislatif di kota tempat kami tinggal. Tadi malam, keluarga besar kami berkumpul membahas tentang pencalonan kakak saya tersebut. Semua sanak kerabat telah memberi dukungan dan turut mengkampanyekan beliau, baik secara langsung maupun tidak. Jujur, kakak saya ini memang seorang yang amanah dan cerdas. Semasa sekolah, beliau selalu menjadi ketua organisasi, ketua OSIS, ketua BEM dan juga guru ngaji yang berdedikasi di pesantren keluarga kami. Semasa menjadi dosen pun, beliau pernah ditawari menjadi dekan, karena prodesionalisme dan kredibilitasnya yang baik. Skenario Allah, kesempatan itu tidak segera diambil dan beliau malah memutuskan untuk meneruskan strata 2 di bidangnya. Hingga ketika s2 inilah, beliau mendapat kesempatan untuk maju menjadi calon anggota legislatif.

Jujur, keputusan beliau berpolitik praktis sempat tidak kami dukung, khususnya saya dan Bapak saya. Kenapa? banyak faktornya. Yang pasti sampai saat ini saya dan bapak hanya bisa berpasrah, jika jalan yang sedang ditempuhnya memang akan mengangkat kemuliaan kakak di sisi Allah, why not? mangga berpolitik praktis. Tetapi jika bukan, semoga dimudahkan untuk mengikhlaskan dan menempuh jalan lain. Namun, ada satu hal yang kami saluti, kakak saya memiliki prinsip politic is not money business. So, sampai skarang, tidak satu rupiah pun yang kami keluarkan untuk kampanya beliau. Juga tidak dari pihak manapun. Benar, kakak saya berkampanye dari masjid ke masjid, dari pengajian ke pengajian, dari rumah ke rumah, dari ba’da shubuh hingga larut malam tanpa biaya dari siapapun,karena aktivitas tersebut memang tidak memerlukan uang, hanya diperlukan ilmu dan kemauan. Dan alhamdulillah semuanya berlangsung mudah, karena sebelum maju menjadi calon anggota legislatif pun beliau termasuk tokoh muda di tempat kami tinggal.

Suatu ketika, Kakak saya pernah menceritakan apa yang menjadi motivasi beliau melakukan semua ini. Meneruskan perjuangan orang tua. Ya, (almarhum) Ibu dan Bapak saya adalah salah seorang tokoh agama di lingkungan kami. Semenjak, kami anak-anaknya meneruskan pendidikan di bidang umum, maka tidak ada lagi dari kami yang meneruskan perjuangan orang tua di kampung halaman menjadi pemuka agama. Basicly, kakak adalah satu-satunya putra Bapak yang pandai mengaji (modern dan tradisional) dan dia juga punya aspek leadership yang bagus. Karena itu, tidak mengherankan jika ia memiliki keberanian untuk meneruskan perjuangan orang tua. Alhamdulillah, cita-cita yang mulia ini semoga tetap terpatri di hatinya dan dapat diwujudkan, tidak jadi masalah kapan pun saatnya itu akan tiba.

Back to rapat keluarga besar kami tadi malam,ada satu kalimat yang menggugah perasaan kami. Salah seorang paman kami menceritakan bahwa beliau sudah menjalankan kewajibannya melakukan pendidikan politik yang benar kepada masyarakat. ‘Saya sudah menghimbau seluruh warga disini untuk memilih pemimpin yang berakhlak mulia, jujur dan berilmu, saya yakin¬†masyarakat akan memilihmu karena kriteria tersebut ada padamu.’. ¬†Kemudian, salah seorang paman yang lain menyahut ‘kalau malaikat punya hak pilih, saya yakin mereka jg pasti akan memilih kamu, Nak.’ Pernyataan yang hiperbolis, tapi cukup menggugah dan disambut hangat oleh seluruh anggota keluarga.

Tulisan ini singkat saja, akan saya tutup dengan sebuah himbauan. Ayo saudaraku, karena malaikat tidak punya hak pilih, mari kita saja yang mewakilinya untuk menunaikan hak pilih mereka. Menyalurkan hak pilih kita pada orang yang tepat. Pada orang yang kita kenal kapasitas dan akhlaknya. Atau jika Anda tidak cukup waktu mengenal calon manapun, salurkanlah pada partai yang anda kenal kredibilitas dan visi misinya. Agar satu suara kita tidak akan sia-sia jatuh pada pilihan yang tidak tepat atau malah tidak disalurkan sama sekali sehingga berakibat mendorong terpilihnya anggota legistif yang abu-abu, hitam dan kelabu.

Posted in 1

Tags:

Permalink 5 Comments